The True Power of Word

Kata-kata yang kita ucapkan, diucapkan keluar ataupun sekedar dalam hati, memiliki pengaruh yang luar biasa. Baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.

Coba perhatikan kedua gambar dibawah ini:

Ya, isi gelas sebelah kiri lebih hitam daripada yang kanan. Isi kedua gelas ini adalah nasi yang kita makan sehari-hari. Nasinya diambil dari tempat yang sama, diisi di gelas yang kering dalam jumlah yang kira-kira sama, dan ditutup dengan plastik wrapper tipis dari gulungan yang sama. Untuk memastikan tidak ada udara keluar masuk, di bagian bawahnya diberi selotip. Kemudian dibiarkan selama 2 minggu.

Mengapa nasi dalam 2 gelas yang persis sama bisa memberikan hasil yang berbeda dalam 2 minggu? Foto dibawah ini jawabannya.

Di gelas sebelah kiri, saya beri stiker bertulisan “Jelek, Bodoh, Jahat.”

Di gelas sebelah kanan, saya beri stiker bertulisan “Cantik, Pintar, Baik.”

Oh ya, anak saya yang berusia 6 tahun yang memilih, stiker yang mana akan ditempel di gelas yang mana. Jadi, Anda boleh yakin bahwa stiker itu ditempel secara acak.

Meski diletakkan berdampingan, selama 2 minggu kedua gelas itu diberi perlakukan berbeda. Bersama istri dan anak, setiap pagi dan malam, kami mengambil gelas di sebelah kiri dan mengatakan, “Kamu jelek, bodoh, jahat! Saya tidak suka sama kamu!” disertai intensitas emosi yang memadai sebisa mungkin.

Kepada gelas yang di sebelah kanan, kami katakan, “Halo cantik. Kamu cantik, pintar dan baik deh. Terima kasih ya…” disertai intensitas emosi gembira dan bersyukur.

Setelah 2 minggu, tentu saja keduanya berjamur. Tapi jamur di gelas kiri berwarna kehitaman dan berbau tidak sedap. Jamur di gelas sebelah kanan cenderung berwarna putih dan tidak berbau. Menarik kan? Anda bisa melakukannya sendiri di rumah.

Ide untuk percobaan ini datang ketika saya mengikuti seminar dengan Bp. Tung Desem Waringin sebagai pembicaranya. Beliau menyinggung buku “The True Power of Water” karangan Masaru Emoto. Buku ini bisa Anda dapatkan di Toko Buku Gramedia.

Penelitian Masaru Emoto membuktikan bahwa pikiran, kata-kata, ide dan musik akan mempengaruhi struktur molekul air. Ia menulis di atas secara kertas, “Fool” (Bodoh) dan “Thank You” (Terima Kasih), dan menempelkannya di dua buah botol berisi air.

“Fool”                                       “Thank You”

Dengan metode fotografi kristal airnya, ia membuktikan bahwa air yang diberi tulisan “Thank You” akan membentuk kristal heksagonal yang indah. Sementara itu, air yang diberi tulisan “Fool”, kristal airnya akan pecah dan rusak.

Apa pesan dari alam yang dapat kita petik dari sini? Tentu saja banyak. Tapi disini saya ingin fokus pada satu hal saja: KEKUATAN KATA-KATA, kata-kata yang kita tujukan ke diri sendiri maupun kepada orang lain.

Sebagian orang sering menggunakan kata-kata negatif kepada diri sendiri. “Saya tidak bisa”, “Saya tidak sepintar dia”, “Saya tidak berbakat”, dsb.

Apa pula jadinya bila kita mengatakan pada anak kita, “Kok begitu saja tidak bisa?”, “Kamu kok tidak sepandai dia?”, “Dasar pemalas!”, “Anak nakal!” dsb.

Sebagaimana diketahui, 70% unsur di dalam tubuh orang dewasa terdiri dari air, dan  komposisi yang sama juga membentuk planet kita. Air adalah sumber kehidupan. Karena itu, kualitas air sangatlah penting bagi makhluk hidup. Apa jadinya bila kita terus menerus menggunakan kata-kata negatif, kepada diri kita maupun kepada orang-orang yang kita cintai?

Berbaiklah kepada diri Anda dan orang-orang yang Anda cintai. Caranya: Berhentilah menggunakan kata-kata negatif. Gunakan kata-kata positif. Daripada mengatakan, “Saya tidak bisa”, lebih baik kita mengatakan “Saya memang belum bisa. Tapi saya akan belajar sampai bisa!”.

Daripada mengatakan kepada anak “Kok begitu saja tidak bisa?”, lebih baik kita katakan, “Anak pintar, coba kita kerjakan sama-sama PR kamu.” Kemudian kita duduk bersama mengerjakan hal-hal yang ingin dihindarinya. Dengan begitu, kita akan tahu dimana letak kelebihan dan kelemahannya, dan kita dapat memberi arahan yang lebih baik untuk anak kita.

Daripada mengatakan kepada sales team Anda, “Apa masalah yang kamu hadapi dalam pencapaian target tahun ini?”, lebih baik mengatakan, “Apa tantangan yang kamu hadapi…”. Bukankah suasananya terasa lain begitu kita memilih menggunakan kata-kata yang lebih positif?

Ingat! Stop menggunakan kata-kata negatif. Saya yakin Anda dapat melakukannya.

Salam Sukses,

Kingson Suryaatmaja

Add comment Juni 19, 2008

Munajat Cinta……

Munajat Cinta……

Ya Allah… Seandainya telah engkau catatkan… Dia milikku, tercipta untukku… Satukanlah hatinya dengan hatiku… Titipkanlah kebahagian antara kami…. agar kemesraan itu abadi… Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi… Seiringkanlah kami melayari hidup ini… Ketepian yang sejahtera dan abadi…

Tetapi ya Allah… Seandainya telah Engkau takdirkan… dia bukan miliku… Bawalah ia jauh dari pandanganku… Luputkanlah ia dari ingatanku… Dan peliharalah aku dari kekecewaan….
Serta ya Allah ya Tuhanku yang maha mengerti… Berikanlah aku kekuatan… Melontar bayangannya jauh ke dada langit… Hilang bersama senja nan merah… agar aku bahagia… Walaupun tanpa bersama dengannya…

Dan ya Allah yang tercinta… Gantillah yang telah hilang… Tumbuhkanlah kembali yang telah patah… Walaupun tidak sama dengan dirinya…

Ya Allah ya Tuhanku… Pasrahkanlah aku dengan takdirmu… Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan… Adalah yang terbaik untuk ku… karena Engkau Maha Mengetahui… Segala yang terbaik buat hamba Mu ini…

Ya Allah… Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku… Di dunia dan di akhirat… Dengarlah rintihan dari hamba Mu yang daif ini… Jangan Engkau biarkan aku sendirian… Di dunia ini maupun di akhirat… Menjuruskan aku kearah kemaksiatan dan kemungkaran… Maka karuniakanlah aku seorang pasangan yang beriman… Supaya aku dan dia sama-sama dapat membina kesejahteraan hidup… Ke jalan yang Engkau ridhai… dan karuniakanlah padaku keturunan yang soleh….

Amin.. Ya Rabbal A’lamin.

*for my beloved boyfriend ‘MATAHARI Q’ :)

2 comments Juni 11, 2008

Bagaimana Caranya menjadi Pemasar yang Lentur?

Ada dua barang dan satu makhluk bernyawa yang bisa mewakili makna lentur, yaitu tongkat galah, peredam kejut dan pebalet. Ketiganya punya unsur tangguh, tidak mudah patah, tidak kaku dan ‘penuh energi’.

Tongkat galah mampu melontarkan pelompat galah sampai lebih dari lima meter. Tongkat galah bisa dilengkungkan tanpa khawatir patah, dan semakin melengkung akan semakin punya tenaga.

Demikian juga peredam kejut, ‘tidak bosan-bosannya’ mendapat tekanan dan tetap kembali ke posisi awal. Tidak hanya peredam kejutnya yang bergerak, tetapi juga mampu mengangkat ‘pantat’ pengendara motor.

Sementara itu, kalau menikmati pertunjukan balet profesional, kita akan mendapat suguhan kelincahan pebalet menerjemahkan musik lewat tarian. Tentu saja hiburan utamanya bukan menikmati wajah atau penampilan fisik pebalet, tetapi memerhatikan kelenturan tubuhnya. Meliuk mengikuti irama musik, menekukkan badan sampai seperti siput, dan dalam hitungan detik langsung melompat tinggi sambil berlari kian kemari.

Seperti pebalet, tongkat galah atau peredam kejut yang lentur, maka seorang pemasar tangguh juga haruslah seseorang yang punya daya lentur tinggi. Bagaimana caranya menjadi pemasar seperti seorang pebalet yang lentur? Apa maksudnya menjadi pemasar yang punya daya lentur?

Ada yang mendefinisikan pemasaran sebagai proses sosial dan manajerial yang dilalui seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan dibutuhkannya, dengan cara menghasilkan atau bertukar produk dan nilai dengan pihak lain. Ada juga yang mengatakan bahwa pemasaran adalah filosofi bisnis untuk membuat apa yang bisa kita jual.

Saya akan mengartikan pemasar dari unsur pembentuk katanya. Pemasar bisa diterjemahkan bebas sebagai orang yang memasarkan sesuatu. Tentu saja dalam memasarkan sesuatu tadi, seorang pemasar perlu melakukan persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan koreksi secara objektif; baik secara sendiri-sendiri maupun bersama rekan pemasar lain, dan bahkan rekan kerja lain di organisasi sendiri dan organisasi lain.

Situasi unik seperti ini membuat para pemasar bisa berinteraksi positif dengan personel di organisasi lain yang bahkan bisa jadi berada di perusahaan lain yang menjadi kompetitornya. Dibutuhkan pemasar yang tidak hanya punya kompetensi teknis tetapi juga soft competence atau kepribadian yang luwes.

Seorang pemasar profesional tidak boleh kalah lentur dibandingkan tongkat galah, peredam kejut atau pebalet. Pemasar perlu punya kelenturan sekaligus etika dan etos kerja unggul.

Pemasar tidak sama dengan penjual. Ada beberapa karakterisitik serupa antara penjual dan pemasar, hanya saja karena tuntutan teknisnya berbeda maka diperlukan modal dasar yang berbeda. Berbeda dengan pemasar, seorang penjual perlu punya kegigihan untuk menggolkan niatnya dalam rangka membuat konsumennya mau merogoh kocek dan membeli.

Seseorang bisa saja punya tugas ganda sekaligus sebagai penjual dan pemasar. Dalam kerangka 7n1 Competition Objective, kedua profesi tadi (sebagai penjual dan pemasar) punya kewajiban sama yaitu meraih sales, market share, awareness, image, satisfaction, loyalty, stakeholder value dan growth. Hanya saja komposisi bobot target kerjanya berbeda.

Seorang penjual punya perhatian dan bobot indikator pada sales, market share dan stakeholder value melalui keuntungan yang lebih tinggi. Sementara itu, pemasar punya konsentrasi pekerjaan yang lebih condong ke pembentukan awareness, image dan customer loyalty.

Kembali ke bahasan menjadi seorang pemasar yang berdaya lentur, diperlukan beberapa hard and soft competencies yang diramu dalam Marketer Competency berikut.

- Kemampuan melakukan riset pasar dan menganalisis temuan riset

- Kemampuan memahami pasar dan memetakan konsumen

- Kemampuan memahami kompetitor dan memetakan kompetisi

- Kemampuan memahami proses distribusi dan merancang program distribusi

- Kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan media komunikasi pemasaran

- Kemampuan merancang strategi kompetisi

- Sikap proaktif, beretika dan percaya diri

- Daya lentur

Daya lentur sebagai karakteristik seorang pemasar bisa diimplementiasikan dalam beragam bentuk. Ketika seorang pemasar berperan merancang program komunikasi pemasaran misalnya, kelenturan ditunjukkan dengan mengakomodasi berbagai kepentingan seperti aspek efektivitas dan efisiensi serta mengintegrasikan keyakinannya akan bauran komunikasi pemasaran yang paling ideal untuk kondisi tertentu.

Ini pulalah yang diperlukan oleh PT Johnson & Johnson Indonesia untuk menggiring persepsi masyarakat akan fungsi obat kumur yang tidak hanya sebagai penghilang bau mulut, tetapi lebih sebagai obat terapi untuk melenyapkan kuman di sela-sela gigi dan gusi.

Ketika anak saya yang berumur 7 tahun disuruh dokter gigi untuk berkumur setiap hari karena giginya ada yang bolong, tetapi tidak bisa lagi ditambal, maka dia perlu penjelasan mengapa gigi yang bolong bisa sembuh dengan cairan yang rasanya ‘pedas’ itu.

Setelah diberi penjelasan singkat, dia tampaknya cukup mengerti, tetapi karena tidak terlalu tahan ‘pedas’, kami pun berkeliling mal untuk mencari obat kumur yang tidak ‘pedas’.

Akhirnya, dia berhasil menemukan obat kumur Listerine rasa jeruk, salah satu rasa yang paling digemarinya. Ternyata, obat kumur zaman sekarang tidak lagi hanya yang pedas menyengat, tetapi sudah disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Dalam situasi seperti ini, pemasar yang punya daya lentur tidak perlu menjadi seseorang yang argumentatif dan kalau perlu ‘bawel’ mempertahankan pendiriannya. Pemasar harus bisa memperagakan pemahaman pasar dan kompetisi sebagai alat berargumen.

Daya lentur pemasar juga mengandung makna bahwa seorang pemasar haruslah punya sikap percaya diri yang memadai atas dasar gambaran peta pasar, kompetisi dan jalur distribusi. Dalam hal ini, pemasar perlu bersehati dengan para penjual untuk ditempa dan menunjukkan sikap tidak mudah menyerah.

Bagaimana caranya menjadi pemasar yang lentur? Belajar, berlatih dan terus mempraktikkan diri merupakan cara efektif untuk menjadi pemasar profesional yang lentur. Keberhasilan bisnis zaman sekarang memang membutuhkan pemasar-pemasar lentur.

(Handito Hadi Joewono, President Arrbey Indonesia)

Add comment Juni 11, 2008

Previous Posts


[Learn to enjoy every minute of your life. Be happy now. Don't wait for something outside of yourself to make you happy in the future. Think how really precious is the time you have to spend, whether it's at work or with your family. Every minute should be enjoyed and savored.]

Matahari Q

My Forum [Tempat Kumpulnya SEJUTA Pengusaha]

E-book Share

My Affiliate

PENGEN BISNIS PULSA ELEKTRIK?

LOVE BATIK

My Fs

My Zorpia

  • Contact Person

  •  

    Indonesia Bisa !!!

    Narsis Center

    PIC_0167

    PIC_0166

    PIC_0119

    PIC_0109

    @ kura2

    More Photos

    Arsip

    Kategori

    Tulisan Terakhir

    Affiliasi

    favorit reference

    Sisi lain

    TeamFaber

    Komentar Pengunjung

    xatryajedi di Antara Jilbab dan Pekerja…
    xatryajedi di Antara Jilbab dan Pekerja…
    janu di Tentang Saya dan Blog ini…
    Imam di Sepuluh Kepribadian Billi…
    syania di Tentang Saya dan Blog ini…
    syania di Tentang Saya dan Blog ini…
    Wuryanano di Tentang Saya dan Blog ini…
    dhe'momo di Tentang Saya dan Blog ini…
    sangaji wibisono di Tentang Saya dan Blog ini…
    andik di Tentang Saya dan Blog ini…

    Log In

    Blog Stats

    • 7,412 hits