Mengupas Kembali The Passion of The Christ….
Mei 2, 2008
Film The Passion of The Christ, adalah film yang sempat mengguncang Amerika Serikat. Film yang dipenuhi kontroversi sejak pembuatannya ini menambah daftar film blockbuster bertema religius setelah sebelumnya orang mengenal The Ten Commandments dan Ben-Hur.
The Passion berkisah tentang 12 jam terakhir kehidupan Yesus. Sebelum The Passion, sebenarnya beberapa kali telah diproduksi film sejenis. Yang membedakan film kontroversial ini dari film-film lain adalah bahwa ia berusaha setia pada Injil dalam hal menggambarkan bahwa sebenarnya yang mendesak agar Yesus dihukum sampai mati adalah pemuka agama Yahudi. Dan, di situlah awal kontroversi.

Disutradarai Mel Gibson dengan aktor James Caviezel sebagai Yesus dan Monica Bellucci sebagai Maria Magdalena, The Passion menuai banyak kritik dari kelompok Yahudi yang menganggap film ini penuh nuansa anti-bangsa Semit, rumpun bangsa yang juga mencakup bangsa Arab, karena penggambaran secara gamblang kelompok yang bersemangat dalam menghukum mati Yesus.
The Passion diputar di 3.043 bioskop kecil di AS dan Kanada. Padahal, sebelumnya banyak studio besar -? seperti American Studio, Miramax/Disney dan 20th Century Fox -? menolak menjadi distributornya. Akhirnya, Gibson menemukan studio kecil independen, yaitu Newmarket Films -? salah satu unit Newmarket Capital Group, yang sukses melambungkan Monster dan Whale Rider -? untuk menjadi distributornya.
Mulanya, banyak pihak yang meragukan kemampuan Newmarket Films mendistribusikan The Passion, terutama terkait dengan jaringan distribusi serta kemampuan menghadapi protes dan tekanan dari pihak-pihak yang tidak menyukai film ini. Sehingga, Newsweek sempat mengupas dalam salah satu tulisannya, bahwa film ini tidak akan menghasilkan banyak uang.
Cara yang dilakukan Gibson yang tergolong tidak lazim itu ternyata tetap dapat menghasilkan pendapatan yang luar biasa -? mencapai US$ 400 juta -? yang mungkin akan sulit ditiru film lain dalam waktu singkat. Padahal, ia hanya mengeluarkan biaya kurang-lebih US$ 30 juta.
Meskipun pendekatan konvensional pendistribusian film melalui berbagai studio besar tidak menjamin kesuksesan, banyak produsen film yang menganggap cara ini yang terbaik. Karena itulah, sikap jaringan studio besar yang menolak mendistribusikan film ini justru menjadi blessing in disguise.
Karena tidak bisa mendistribusikan melalui jalur yang sudah established, Gibson kemudian dengan cerdik memanfaatkan volunteer sales force, yaitu para pemuka agama yang dengan mudah menjalankan proses spreading the good news, yang ternyata jauh lebih efektif. Apalagi, timing yang dipilih juga bagus: dimulai pada hari Rabu Abu.
Langkah Gibson menjadi contoh bahwa jalur distribusi bukanlah sekadar yang bersifat fisik, seperti gerai atau dealer. Perusahaan sering melihat jalur dari wujud fisiknya saja, seperti cabang atau dealer. Padahal, sales force juga bisa menjadi jalur yang lebih luar biasa.
Di tengah persaingan bisnis yang semakin menghangat, Dalam bukunya The Channel Advantage, Larry Friedman menulis bahwa dengan makin pendeknya beda waktu antara suatu produk breakthrough keluar dan tiruannya menyusul, product strategy tidak lagi dapat diandalkan.
Dalam keadaan seperti ini, ?Its not what you sell, its how you sell it? Keunggulan bisnis dapat tercapai dengan sales force yang inovatif dan efektif. Apalagi, keunggulan yang dimiliki sales force justru lebih sulit ditiru dibanding jalur fisik yang konvensional.
Sales force yang andal dengan dibekali segenap kemampuan baik hard maupun soft skill tentu diharapkan dapat menjalankan precision selling yang lebih menekankan pada how and who to sell dan bukan hanya what to sell.
Kita tidak bisa lagi mengandalkan jalur sekadar yang bersifat fisik. Untuk menguasai pasar, perusahaan membutuhkan channel mix yang efektif dan salah satunya adalah sales force.
Channel mix yang kita miliki seperti sales force bisa saja bersifat independen, seperti yang dilakukan PT Astra Otoparts, asalkan tetap dapat secara optimal menjadi bagian dari channel mix perusahaan.
Entry Filed under: Book/Movie Review. Tag: marketing, passion, sales force.




















Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed