Posts filed under 'Motivasi'
Memimpin dengan Menyapa
Menyapa sepertinya adalah suatu aktivitas yang ringan dan gampang dilakukan, namun pada prakteknya sangat susah untuk dilakukan. Banyak orang susah untuk menyapa dijaman yang super sibuk ini, padahal tehnologi canggih sudah merambah dalam setiap denyut nadi kehidupan.
Banyak kesempatan yang dapat digunakan untuk menyapa, tetapi semua itu kembali ke pribadi setiap orang apakah mau menyapa atau tidak. Banyak cara dan kata untuk menyapa misal dengan tersenyum, menganggukan kepala, atau berkata : apa kabar, selamat padi, bagaimana kondisi kesehatanmu hari ini dan semua itu dapat dilakukan melalui telephone, email, chatting atau bahkan melalui siaran radio yang disiarkan secara langsung.
Menyapa bagi orang yang berpikiran positip adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan karena dapat berinteraksi langsung dengan orang lain, bahkan dapat membuat orang lain berbahagia, bersemangat dan termotivasi untuk menjalani hari-harinya. Menyapa tidak akan merugikan bahkan akan memperkaya dan membuat kita bahagia.
Betapa senangnya bila dipagi hari kita bertemu atasan atau teman dan disapa dengan senyuman dan pujian : “wah serasi benar bajumu hari ini, semoga kesuksesan menyertaimu”. Persaaan bangga, bahagia dan biasanya bingung menghinggapi kita bila ada yang memuji walaupun sambil lalu. Bagi atasan pujian itu adalah untuk memberikan suatu penghargaan atas penampilan kita untuk siap bekerja, selain itu adalah sebuah doa dan harapan agar kita dapat bekerja dengan baik sehingga sukses. Sukses disini dapat diartikan sukses bagi pribadi dan sukses bagi perusahaan.
Pemimpin yang berpikir positip pasti akan mau menyapa setiap karyawan yang ditemuinya, baik dengan senyum, ucapan salam, pujian atau bahkan sebuah teguran halus. Karena sapaan yang ramah maka terguran tersebut pasti terasa dihati karyawan yang ditegur tanpa membuat malu atau marah.
Pemimpin yang baik sambil menyapa dapat menegur karyawannya dengan santai, misal saat akan masuk lobby kantor bertemu dengan karyawannya, setelah tersenyum dan menyapa dengan salam selamat pagi, tiba-tiba sang atasan berkata kepada karyawannya yang sedang terburu-buru melakukan absensi : “Koq terburu-buru absennya, wah takut telat ya, coba besok jam berangkatmu lebih maju sedikit, saya yakin pasti kamu tidak akan terlambat”. Sebuah teguran halus tetapi juga memberikan solusi untuk mengatasinya agar tidak terlambat. Dengan tepat waktu saat bekerja maka produktivitas kerja karyawan dapat ditingkatkan sehingga suasana kerja menjadi nyaman dan target perusahaan dapat tercapai.
Memimpin dengan menyapa harus selalu dipraktekkan dengan ketulusan dan ketekunan, karena dengan menyapa semua orang/karyawan maka akan dapat diketahui kebiasaan-kebiasaan baik maupun buruk sehingga dapat segera dilakukan koreksi untuk kebaikan semuanya. Memimpin dengan menyapa tidak akan membuat kita kehilangan wibawa, bahkan bisa lebih berkharisma karena dapat akrab dan membuat orang saling mengenal diri kita secara personal.
Sudah kah para pemimpin kita baik dikantor mau menyapa karyawan atau anggotanya, Apabila mereka belum mau atau tidak mau menyapa, marilah kita berpikir positip dengan menyapa mereka lebih dahulu dengan senyuman maupun salam, dan semoga membuat mereka sadar bahwa sebagai pemimpin harus menghargai karyawannya. Tanpa karyawan/bawahan maka mereka itu bukan pemimpin karena tidak ada yang dipimpin.
Marilah kita menyapa dengan tulus dan penuh semangat agar hidup kita menjadi positip dan selalu diberkati dan dikaruniai rahmat Nya.
from; Mas Bhe
2 comments September 16, 2008
Ya Allah, Maafkan Aku dikala Mengeluh
Waktu itu, di dalam mini bus,
Aku melihat seorang gadis berkerudung putih dengan paras yang cantik.
Aku sungguh iri padanya. Ia kelihatan begitu anggun,
Aku berharap bisa secantik dia.
Kemudian tiba-tiba ia berdiri meninggalkan tempat duduknya,
Ku lihat jalannya yang pincang.
Sambil lewat, ia tersenyum padaku.
Ya, Allah, maafkan kala aku mengeluh
Aku memiliki dua kaki, dunia ini milikku.
Aku berhenti untuk membeli permen.
Pria penjualnya sungguh mempesona.
Aku berbincang dengannya, terlihat ia begitu gembira.
Bila aku telat, sungguh tidak masalah.
Ketika hendak pergi, ia berkata padaku,
“Terima kasih, Anda begitu baik.
Senang rasanya berbincang dengan orang seperti Anda.
Anda tahu,” katanya, “saya ini buta.”
Ya, Allah, maafkan kala aku mengeluh
Aku punya 2 mata, dunia ini milikku.
Kemudian, kala ku telusuri jalan,
Ku lihat seorang anak bermata biru.
Ia berdiri menyaksikan anak lain bermain.
Ia terlihat seakan tidak tahu hendak berbuat apa.
Aku berhenti sejenak dan kemudian berkata,
“Mengapa tidak bergabung dengan teman-temanmu, sayang?”
Ia memandang ke depan tanpa sepatah kata.
Tahulah aku, ia tak bisa mendengar.
Ya, Allah, maafkan kala aku mengeluh.
Aku punya dua telinga, dunia ini milikku.
Dengan kaki aku bisa pergi kemana ku suka.
Dengan mata aku bisa lihat matahari tenggelam di ufuk barat.
Dengan telinga aku bisa mendengar apa yang ingin aku tahu
Ya, Allah, maafkan kala aku mengeluh
Sungguh aku telah diberkahi. Dunia ini sungguh milikku……
Editing from Kingson Surya
2 comments Agustus 14, 2008
Misi Hidup Dalam Sebuah Pekerjaan
Pada saat matahari mulai menampakkan bias sinarnya, saya melangkahkan kaki dengan senyuman berniat untuk jalan2 mencari sarapan di sekitar kosan. Tanpa sengaja saya melihat seorang wanita separuh baya, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa kuli bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang sangat murah.
Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? saya mengajukan pertanyaan kepada ibu itu… Ibu itu terkekeh menjawab,”Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun.” Tapi bukankah ibu bisa menaikkan harga sedikit? tanya ku …Sekali lagi ibu itu terkekeh,”Lalu bagaimana kuli2 itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?”katanya sambil menunjukkan para lelaki yang berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja. Dan saya pun hanya bisa diam membisu
sambil mengucap masyaallah ….
Ah! Betapa cantiknya, pemandangan pagi ini seru ku dalam hati. Mmm… dan betapa asrinya bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah pekerjaan. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam mengemban pekerjaan? menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.
Semoga terinspirasi. Given better than before
1 comment Juli 17, 2008
Temukan Cinta Anda
Hay kawan …..
sebelum saya menulis artikel motivasi singkat ini, ada harapan besar agar kawan2 dapat memaknainya. Bacalah, pahami dan temukan itu, Semoga bermanfaat
Bila Anda tak mencintai pekerjaan Anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila Anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja Anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor Anda. Ini mendorong Anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh Anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja Anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila Anda tak menemukan kesenangan disana, maka cintai apa pun yang bisa Anda cintai dari tempat kerja Anda: tanaman penghias meja atau gumpalan awan dari balik jendela kantor.
Apa saja. Bila Anda tak menemukan yang bisa Anda cintai dari pekerjaan Anda, maka mengapa Anda ada disitu? Tak ada alasan bagi Anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang Anda cintai, lalu bekerjalah disana. Hidup hanya sekali! Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.
2 comments Juli 16, 2008
The True Power of Word
Kata-kata yang kita ucapkan, diucapkan keluar ataupun sekedar dalam hati, memiliki pengaruh yang luar biasa. Baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.
Coba perhatikan kedua gambar dibawah ini:
Ya, isi gelas sebelah kiri lebih hitam daripada yang kanan. Isi kedua gelas ini adalah nasi yang kita makan sehari-hari. Nasinya diambil dari tempat yang sama, diisi di gelas yang kering dalam jumlah yang kira-kira sama, dan ditutup dengan plastik wrapper tipis dari gulungan yang sama. Untuk memastikan tidak ada udara keluar masuk, di bagian bawahnya diberi selotip. Kemudian dibiarkan selama 2 minggu.
Mengapa nasi dalam 2 gelas yang persis sama bisa memberikan hasil yang berbeda dalam 2 minggu? Foto dibawah ini jawabannya.
Di gelas sebelah kiri, saya beri stiker bertulisan “Jelek, Bodoh, Jahat.”
Di gelas sebelah kanan, saya beri stiker bertulisan “Cantik, Pintar, Baik.”
Oh ya, anak saya yang berusia 6 tahun yang memilih, stiker yang mana akan ditempel di gelas yang mana. Jadi, Anda boleh yakin bahwa stiker itu ditempel secara acak.
Meski diletakkan berdampingan, selama 2 minggu kedua gelas itu diberi perlakukan berbeda. Bersama istri dan anak, setiap pagi dan malam, kami mengambil gelas di sebelah kiri dan mengatakan, “Kamu jelek, bodoh, jahat! Saya tidak suka sama kamu!” disertai intensitas emosi yang memadai sebisa mungkin.
Kepada gelas yang di sebelah kanan, kami katakan, “Halo cantik. Kamu cantik, pintar dan baik deh. Terima kasih ya…” disertai intensitas emosi gembira dan bersyukur.
Setelah 2 minggu, tentu saja keduanya berjamur. Tapi jamur di gelas kiri berwarna kehitaman dan berbau tidak sedap. Jamur di gelas sebelah kanan cenderung berwarna putih dan tidak berbau. Menarik kan? Anda bisa melakukannya sendiri di rumah.
Ide untuk percobaan ini datang ketika saya mengikuti seminar dengan Bp. Tung Desem Waringin sebagai pembicaranya. Beliau menyinggung buku “The True Power of Water” karangan Masaru Emoto. Buku ini bisa Anda dapatkan di Toko Buku Gramedia.
Penelitian Masaru Emoto membuktikan bahwa pikiran, kata-kata, ide dan musik akan mempengaruhi struktur molekul air. Ia menulis di atas secara kertas, “Fool” (Bodoh) dan “Thank You” (Terima Kasih), dan menempelkannya di dua buah botol berisi air.

“Fool” “Thank You”
Dengan metode fotografi kristal airnya, ia membuktikan bahwa air yang diberi tulisan “Thank You” akan membentuk kristal heksagonal yang indah. Sementara itu, air yang diberi tulisan “Fool”, kristal airnya akan pecah dan rusak.
Apa pesan dari alam yang dapat kita petik dari sini? Tentu saja banyak. Tapi disini saya ingin fokus pada satu hal saja: KEKUATAN KATA-KATA, kata-kata yang kita tujukan ke diri sendiri maupun kepada orang lain.
Sebagian orang sering menggunakan kata-kata negatif kepada diri sendiri. “Saya tidak bisa”, “Saya tidak sepintar dia”, “Saya tidak berbakat”, dsb.
Apa pula jadinya bila kita mengatakan pada anak kita, “Kok begitu saja tidak bisa?”, “Kamu kok tidak sepandai dia?”, “Dasar pemalas!”, “Anak nakal!” dsb.
Sebagaimana diketahui, 70% unsur di dalam tubuh orang dewasa terdiri dari air, dan komposisi yang sama juga membentuk planet kita. Air adalah sumber kehidupan. Karena itu, kualitas air sangatlah penting bagi makhluk hidup. Apa jadinya bila kita terus menerus menggunakan kata-kata negatif, kepada diri kita maupun kepada orang-orang yang kita cintai?
Berbaiklah kepada diri Anda dan orang-orang yang Anda cintai. Caranya: Berhentilah menggunakan kata-kata negatif. Gunakan kata-kata positif. Daripada mengatakan, “Saya tidak bisa”, lebih baik kita mengatakan “Saya memang belum bisa. Tapi saya akan belajar sampai bisa!”.
Daripada mengatakan kepada anak “Kok begitu saja tidak bisa?”, lebih baik kita katakan, “Anak pintar, coba kita kerjakan sama-sama PR kamu.” Kemudian kita duduk bersama mengerjakan hal-hal yang ingin dihindarinya. Dengan begitu, kita akan tahu dimana letak kelebihan dan kelemahannya, dan kita dapat memberi arahan yang lebih baik untuk anak kita.
Daripada mengatakan kepada sales team Anda, “Apa masalah yang kamu hadapi dalam pencapaian target tahun ini?”, lebih baik mengatakan, “Apa tantangan yang kamu hadapi…”. Bukankah suasananya terasa lain begitu kita memilih menggunakan kata-kata yang lebih positif?
Ingat! Stop menggunakan kata-kata negatif. Saya yakin Anda dapat melakukannya.
Salam Sukses,
Kingson Suryaatmaja
2 comments Juni 19, 2008
Bagaimana Caranya menjadi Pemasar yang Lentur?
Ada dua barang dan satu makhluk bernyawa yang bisa mewakili makna lentur, yaitu tongkat galah, peredam kejut dan pebalet. Ketiganya punya unsur tangguh, tidak mudah patah, tidak kaku dan ‘penuh energi’.
Tongkat galah mampu melontarkan pelompat galah sampai lebih dari lima meter. Tongkat galah bisa dilengkungkan tanpa khawatir patah, dan semakin melengkung akan semakin punya tenaga.
Demikian juga peredam kejut, ‘tidak bosan-bosannya’ mendapat tekanan dan tetap kembali ke posisi awal. Tidak hanya peredam kejutnya yang bergerak, tetapi juga mampu mengangkat ‘pantat’ pengendara motor.
Sementara itu, kalau menikmati pertunjukan balet profesional, kita akan mendapat suguhan kelincahan pebalet menerjemahkan musik lewat tarian. Tentu saja hiburan utamanya bukan menikmati wajah atau penampilan fisik pebalet, tetapi memerhatikan kelenturan tubuhnya. Meliuk mengikuti irama musik, menekukkan badan sampai seperti siput, dan dalam hitungan detik langsung melompat tinggi sambil berlari kian kemari.
Seperti pebalet, tongkat galah atau peredam kejut yang lentur, maka seorang pemasar tangguh juga haruslah seseorang yang punya daya lentur tinggi. Bagaimana caranya menjadi pemasar seperti seorang pebalet yang lentur? Apa maksudnya menjadi pemasar yang punya daya lentur?
Ada yang mendefinisikan pemasaran sebagai proses sosial dan manajerial yang dilalui seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan dibutuhkannya, dengan cara menghasilkan atau bertukar produk dan nilai dengan pihak lain. Ada juga yang mengatakan bahwa pemasaran adalah filosofi bisnis untuk membuat apa yang bisa kita jual.
Saya akan mengartikan pemasar dari unsur pembentuk katanya. Pemasar bisa diterjemahkan bebas sebagai orang yang memasarkan sesuatu. Tentu saja dalam memasarkan sesuatu tadi, seorang pemasar perlu melakukan persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan koreksi secara objektif; baik secara sendiri-sendiri maupun bersama rekan pemasar lain, dan bahkan rekan kerja lain di organisasi sendiri dan organisasi lain.
Situasi unik seperti ini membuat para pemasar bisa berinteraksi positif dengan personel di organisasi lain yang bahkan bisa jadi berada di perusahaan lain yang menjadi kompetitornya. Dibutuhkan pemasar yang tidak hanya punya kompetensi teknis tetapi juga soft competence atau kepribadian yang luwes.
Seorang pemasar profesional tidak boleh kalah lentur dibandingkan tongkat galah, peredam kejut atau pebalet. Pemasar perlu punya kelenturan sekaligus etika dan etos kerja unggul.
Pemasar tidak sama dengan penjual. Ada beberapa karakterisitik serupa antara penjual dan pemasar, hanya saja karena tuntutan teknisnya berbeda maka diperlukan modal dasar yang berbeda. Berbeda dengan pemasar, seorang penjual perlu punya kegigihan untuk menggolkan niatnya dalam rangka membuat konsumennya mau merogoh kocek dan membeli.
Seseorang bisa saja punya tugas ganda sekaligus sebagai penjual dan pemasar. Dalam kerangka 7n1 Competition Objective, kedua profesi tadi (sebagai penjual dan pemasar) punya kewajiban sama yaitu meraih sales, market share, awareness, image, satisfaction, loyalty, stakeholder value dan growth. Hanya saja komposisi bobot target kerjanya berbeda.
Seorang penjual punya perhatian dan bobot indikator pada sales, market share dan stakeholder value melalui keuntungan yang lebih tinggi. Sementara itu, pemasar punya konsentrasi pekerjaan yang lebih condong ke pembentukan awareness, image dan customer loyalty.
Kembali ke bahasan menjadi seorang pemasar yang berdaya lentur, diperlukan beberapa hard and soft competencies yang diramu dalam Marketer Competency berikut.
- Kemampuan melakukan riset pasar dan menganalisis temuan riset
- Kemampuan memahami pasar dan memetakan konsumen
- Kemampuan memahami kompetitor dan memetakan kompetisi
- Kemampuan memahami proses distribusi dan merancang program distribusi
- Kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan media komunikasi pemasaran
- Kemampuan merancang strategi kompetisi
- Sikap proaktif, beretika dan percaya diri
- Daya lentur
Daya lentur sebagai karakteristik seorang pemasar bisa diimplementiasikan dalam beragam bentuk. Ketika seorang pemasar berperan merancang program komunikasi pemasaran misalnya, kelenturan ditunjukkan dengan mengakomodasi berbagai kepentingan seperti aspek efektivitas dan efisiensi serta mengintegrasikan keyakinannya akan bauran komunikasi pemasaran yang paling ideal untuk kondisi tertentu.
Ini pulalah yang diperlukan oleh PT Johnson & Johnson Indonesia untuk menggiring persepsi masyarakat akan fungsi obat kumur yang tidak hanya sebagai penghilang bau mulut, tetapi lebih sebagai obat terapi untuk melenyapkan kuman di sela-sela gigi dan gusi.
Ketika anak saya yang berumur 7 tahun disuruh dokter gigi untuk berkumur setiap hari karena giginya ada yang bolong, tetapi tidak bisa lagi ditambal, maka dia perlu penjelasan mengapa gigi yang bolong bisa sembuh dengan cairan yang rasanya ‘pedas’ itu.
Setelah diberi penjelasan singkat, dia tampaknya cukup mengerti, tetapi karena tidak terlalu tahan ‘pedas’, kami pun berkeliling mal untuk mencari obat kumur yang tidak ‘pedas’.
Akhirnya, dia berhasil menemukan obat kumur Listerine rasa jeruk, salah satu rasa yang paling digemarinya. Ternyata, obat kumur zaman sekarang tidak lagi hanya yang pedas menyengat, tetapi sudah disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Dalam situasi seperti ini, pemasar yang punya daya lentur tidak perlu menjadi seseorang yang argumentatif dan kalau perlu ‘bawel’ mempertahankan pendiriannya. Pemasar harus bisa memperagakan pemahaman pasar dan kompetisi sebagai alat berargumen.
Daya lentur pemasar juga mengandung makna bahwa seorang pemasar haruslah punya sikap percaya diri yang memadai atas dasar gambaran peta pasar, kompetisi dan jalur distribusi. Dalam hal ini, pemasar perlu bersehati dengan para penjual untuk ditempa dan menunjukkan sikap tidak mudah menyerah.
Bagaimana caranya menjadi pemasar yang lentur? Belajar, berlatih dan terus mempraktikkan diri merupakan cara efektif untuk menjadi pemasar profesional yang lentur. Keberhasilan bisnis zaman sekarang memang membutuhkan pemasar-pemasar lentur.
(Handito Hadi Joewono, President Arrbey Indonesia)
Add comment Juni 11, 2008


